Jumat, 12 Juni 2009

Kampung Kuningan yang Terus Bertahan

SEMARANG - Kampung Kuningan bertahan di tengah-tengah pembangunan kawasan segi tiga emas Kuningan dan Mega Kuningan, Jakarta. Sudarmawan Juwono memaparkan kebertahanan kampung di Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, itu saat ujian promosi terbuka program doktor Teknik Arsitektur dan Perkotaan Program Pascasarjana Undip di Gedung Pascasarjana Undip, Jalan Imam Bardjo, Semarang, kemarin.

Di hadapan penguji, antara lain Rektor Undip Prof Dr dr Susilo Wibowo MS Med Sp And, Prof Dr Ir Sugiono Soetomo DEA (promotor), dan Prof Ir Eko Budihardjo MSc, pria kelahiran Wonosobo, 22 November 1966, itu memaparkan disertasi ”Kampung Kuningan di Kawasan Mega Kuningan Jakarta, Kebertahanan Kampung dalam Perkembangan Kota.”


Dia menyatakan fakta sejarah dan tradisi lisan menunjukkan Kampung Kuningan memiliki akar sejarah sebagai kampung Betawi. ”Aktivitas sehari-hari warga, nilai sosial budaya seperti mata pencaharian, tradisi, adat-istiadat, kebiasaan, dan hubungan kemasyarakatan masih dilestarikan di sana.”

Pengajar arsitektur Universitas Bung Karno dan Universitas YAI Persada Jakarta itu menuturkan kampung itu sekarang bertahan dengan segala aktivitas, morfologi, serta kehidupan warga. ”Bahkan ada 'unsur' kampung yang diakomodasi di kawasan modern.”

Dia menyatakan perubahan wujud, fungsi, dan keberadaan kampung erat berkait dengan perkembangan Mega Kuningan. Puncak perkembangan 1994-1997 ditandai dengan perkembangan estate developement Mega Kuningan sebagai bagian pembangunan segi tiga emas Kuningan yang menggusur sebagian besar Kampung Kuningan. Kampung yang tersisa bertahan, menyesuaikan diri dengan perkembangan kawasan.

Namun, kata pegawai PT Pos Indonesia itu, ada ancaman yang terlihat dari perubahan sosiospesial. Meski ada pula kemampuan mempertahankan makam dan masjid. ”Ruang-ruang itu inti nilai-nilai keruangan yang tak dapat ditembus kekuatan sosial ekonomi.”

Ruang itu ditransformasikan sebagai ruang bersama sehingga bernilai fungsional dan simbolik. Proses itu wujud pelestarian yang mengintegrasikan kampung dalam perkembangan kota.

Bisa disimpulkan, ujar peraih predikat cum laude dengan IPK 3,77 itu, Kampung Kuningan merupakan permukiman yang memiliki nilai sosial budaya, latar belakang sejarah, tradisi Betawi, dan Islam. Kampung itu tumbuh secara fungsional sebagai tempat tinggal dan ruang kerja bagi warga.

Berbagai investasi ekonomi dan sosial didasari spirit kampung untuk mempertahankan jiwa kampung tetap berkembang. ”Namun jika perkembangan kawasan dan kampung dibiarkan mengikuti mekanisme pasar akan menurunkan manfaat fungsional kampung. Karena itu pemerintah perlu mempertahankan dan menetapkan pelestarian ruang dan kehidupan Kampung Kuningan yang tersisa sebagai bagian keragaman kawasan Kuningan.”

Sumber: Suara Merdeka

Read more.....

Prof Eko Masuki Purnatugas (2)

Ingin Melihat Undip Lebih Disegani
RUMAH bagi Prof Ir Eko Budihardjo MSc, merupakan tempat terpenting. Selain sarana berkumpul anggota keluarga, juga berfungsi sebagai peluruh stres. Prof Eko merancang sendiri rumahnya. Ia membikin bangunan dua lantai di Jalan Telaga Bodas Raya Kav I No 4, Semarang itu senyaman mungkin.

Rumah itu mengadopsi konsep Romo Mangun, yakni menyerupai payung di tengah lapangan. Dengan ventilasi cukup, udara dan cahaya leluasa masuk dari segenap penjuru mata angin.

Aneka tanaman di pekarangan, menambah keasrian rumah yang ditinggali Prof Eko setelah tak lagi menjabat rektor Undip itu. Memiliki rumah pribadi yang nyaman dan asri merupakan angan-angannya semenjak dulu. Maka, ketika angan-angan itu terwujud, ia merasa sangat bersyukur. Kalau sudah begitu, ingatannya pun meloncat ke masa lalu, saat itu masih berstatus dosen muda, pernah tinggal bersama istri dan anaknya di penginapan milik Undip. Bukan dalam bentuk rumah, melainkan hanya sebuah kamar.


Alkisah pada 1976, Prof Eko mendapat beasiswa ke Inggris. Karena cukup lama, ia mengajak serta istri dan anaknya. Untuk itu Prof Eko harus mendapatkan dana tambahan. Cara yang paling gampang adalah dengan menjual mobil serta mengontrakkan rumah miliknya di Jalan Erlangga.

Saat studinya berakhir, Prof Eko sekeluarga kembali ke Indonesia. Namun masa kontrak rumah itu belum berakhir. Jadilah mereka keluarga yang tak punya tempat tinggal. Atas saran seorang kawan, ia memberanikan diri menemui rektor Undip yang saat itu dijabat Prof Soedarto SH.

Prof Eko memohon izin menempati penginapan milik Undip yang biasa dipakai untuk tamu-tamu dari luar negeri. ”Kepada Prof Darto saya bilang, saya ini kan juga baru datang dari luar negeri. Eh, alasan ngawur-ngawuran itu diterima. Mungkin beliau kasihan kepada saya, ha ha ha.”

Kisah Mengesankan

Soal rumah hanya bagian kecil dari romantika perjalanan karier Prof Eko. Di luar itu, masih banyak berserak kisah-kisah yang mengesankan. Salah satunya adalah pelantikan dirinya sebagai rektor Undip, menggantikan Prof Dr Muladi SH di tengah suasana chaos reformasi 1998. Mengesankan, karena selain Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Ir Wiranto Arismunandar, Prof Eko juga dilantik oleh mahasiswa.

Ceritanya, mahasiswa Undip menolak mengakui Prof Eko sebagai rektor jika pelantikan dilakukan di Jakarta. Mereka menginginkan pelantikan di Semarang dengan disaksikan para mahasiswa. Namun karena alasan keamanan, pelantikan itu akhirnya tetap dilaksanakan di Jakarta pada 19 Mei.

Mengetahui itu, mahasiswa merasa kecewa. Mereka melalui lembaga Senat Mahasiswa akhirnya berinisiatif membuat upacara pelantikan sendiri. Acara itu terlaksana pada 23 Mei, ketika berlangsung serah-terima jabatan, dari Prof Muladi kepada Prof Eko.

Kisah mengesankan juga terkait dengan puncak pencapaian. Dari sekian banyak prestasi yang diraih, Prof Eko paling bangga dengan pencapaian Undip sebagai satu dari tiga universitas di Indonesia yang masuk dalam the best university in the world versi Times Higher Education pada 2006. Peringkat Undip berada di bawah UI dan UGM.

”Menjadi nomor tiga itu luar biasa. Kalau UI dan UGM menempati peringkat atas itu wajar. UI yang berada di Jakarta dekat dengan Presiden. UGM di Yogyakarta dekat dengan kerajaan. Lha Undip, dekatnya cuma sama rakyat.”

Kesuksesan Undip, kata Prof Eko, diraih tidak dengan cara gampang. Selain pembenahan internal, Undip juga gencar melakukan kerja sama dengan pihak luar melalui program go international. Pada 2005 Prof Eko mengajak delapan dekan melakukan kunjungan ke tujuh Universitas di Amerika Serikat. Masih di tahun yang sama, Undip melakukan kerja sama program double degree dengan lima universitas di Perancis.

Masih sebagai rektor, Prof Eko pernah mencanangkan Undip sebagai universitas riset. Oleh Prof Dr dokter Soesilo Wibowo SMed SPAnd, penggantinya, gagasan itu diperkuat dengan memasang target pencapaian pada 2020. Dalam pemikirannya, kemajuan ilmu pengetahuan hanya bisa diperoleh melalui penelitian.

”Dalam statuta saat itu, Undip hanya disebut sebagai educational university. Ini sesuatu yang menghambat. Educational university itu sekadar preservation of science atau pengawetan ilmu pengetahuan. Ya udah ilmunya cuma itu-itu saja. Beda dengan research university. Di sana ada pengembangan ilmu. Dosen-dosen dituntut melakukan penelitian.”

Puncak pencapaian lain adalah penghargaan Kalpataru pada 1998. Penghargaan itu diberikan, karena sebagai akademisi dinilai mampu melakukan upaya pelestarian lingkungan. Saat Taman KB hendak didirikan bangunan, misalnya, Prof Eko berdiri di barisan mereka yang gigih melakukan penolakan.

Merasa Gagal

Di ranah domestik, Prof Eko sukses menjalankan fungsinya sebagai kepala keluarga. Ia menjadi pengayom sekaligus teladan bagi istri, anak, serta cucunya. Sebagai akademisi, lelaki berzodiak Gemini itu senantiasa menanamkan pentingnya pendidikan. Itulah mengapa seluruh anggota keluarga Prof Eko berpendidikan pascasarjana dan sukses di bidangnya masing-masing. Istrinya Ir Sudanti Hardjohoebojo MSL pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Permukiman dan Tata Ruang (Kimtaru) Jateng. Dr Holy Ametati Sp KK, anak pertama, bekerja di RS Permata Medika. Anak kedua, Aretha Aprilia ST MSc saat ini mengikuti pendidikan di United Nations Environmental Program di Bangkok. Demikian dengan kedua menantu. Dr Firdaus Wahyudi MKes (suami Holy Ametati) menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Undip. Sedangkan Dr Nuki Agya Utama MSc (suami Aretha) tengah mengikuti program post doctoral di Kyoto University, Jepang.

Di luar kisah sukses, Prof Eko juga pernah merasa gagal. Itulah kegagalan mewujudkan obsesi membangun auditorium baru sebagai pengganti auditorium Undip Pleburan. Menurut Prof Eko, keberadaan auditorium yang rencananya dibangun di sebelah Gedung Serbaguna (GSG) Tembalang itu itu penting. Kalau terwujud, ia bisa menampung 5.000 wisudawan sekaligus.
”Sejauh ini Undip belum memiliki gedung yang representatif untuk wisuda mahasiswa. Akibatnya wisuda harus dilakukan sendiri-sendiri,” ujar kakek dari Jasmine Alvita Firdaus (9) dan Akhtar Avatara (3) itu.

Kegagalan lain? Urung menduduki kursi calon Gubernur Jateng pada Pilkada 2008. Meski demikian Prof Eko tak pernah menganggap itu sebagai kegagalan. Sebaliknya, ia merasa beroleh pengalaman luar biasa. Prof Eko yang dengan niat baik maju dalam pilkada terhalang oleh persyaratan dana.

”Saat menjalani fit and proper test di Jakarta, pertanyaan pertama yang dilontarkan adalah soal kesiapan dana kampanye. Saya yang sedari awal berkomitmen untuk tak bermain politik uang, langsung gugur. Itulah kenapa saya merasa itu bukan suatu kegagalan.”

Kini, meski tak lagi memimpin Undip, Prof Eko mengaku tetap menambatkan hatinya di perguruan tinggi itu, ingin menyaksikan Undip menjadi universitas yang lebih disegani di kancah internasional. Prof Eko pun menitip pesan kepada seluruh civitas akademika Undip untuk menajamkan unsur dalam Tri Dharma, terutama bidang penelitian dan pengabdian.

”Penelitian dosen dan mahasiswa perlu ditingkatkan. Syukur-syukur hasilnya diterbitkan di jurnal internasional. Mengenai pengabdian, semestinya cendekiawan di kampus ikut memikirkan masalah bangsa dan negara. Jangan memakai kaca mata kuda,” tandasnya.

Sumber : Suara Merdeka

Read more.....

Prof Eko Masuki Purnatugas (1)

Saya Tetap ''Willem Ortano''
Setelah mengabdi selama 40 tahun sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), Selasa (9/6), Prof. Ir. Eko Budihardjo, MSc akan memasuki purnatugas. Apa saja karya yang telah ia buat? Apa pula obsesi yang belum ia raih?

ZONDER rehat sepulang dari Jakarta, Minggu (7/6) pagi, Prof. Ir. Eko Budihardjo MSc langsung mengadakan jumpa pers di kediamannya, Jl Telaga Bodas Raya Kav I No 4 Semarang. Bagai tak merasa capai, mantan Rektor Undip (1998-2006) itu melayani dengan antusias sejumlah awak media yang ia undang.


Selain memapar acara purnatugas yang rencananya dilaksanakan Selasa (9/6), ia juga bicara panjang-lebar soal pendidikan tinggi, arsitektur dan tata kota. Prof. Eko, sapaan Eko Budihardjo, terlihat bergairah. Dengan gaya cablaka, ia mengkritik lembaga universitas yang cenderung menjadi produk kapital. Lelaki kelahiran Purbalingga 9 Juni 1944 itu juga menyentil sebagian arsitek dan ahli tata kota yang acap melakukan pelacuran profesi serta larut dalam arus global.

Meski kritiknya pedas, Prof. Eko tetap menyisipkan humor-humor segar nancerdas. Dua jam lebih ia bicara, para jurnalis tekun menyimaknya. Ya, tak ada yang berubah dari Prof Eko menjelang masa purnatugasnya. Ia tetap aktif, bersemangat, dan cablaka.

Bagi Prof Eko, purnatugas sekadar tengara. Menyitir puisi Emil Salim yang didedikasikan kepadanya, ia mengatakan bahwa yang purna itu status PNS, bukan tugasnya. Sebagai manusia yang kebetulan dikaruniai ilmu pengetahuan, Prof Eko merasa tak patut berhenti membagikannya.

Itulah mengapa alumnus Departement of Town Planning pada University of Wales Institute of Science and Tecnology, Cardiff, Inggris tersebut bertekat akan terus aktif mendharmabaktikan dirinya untuk masyarakat. Meski pensiun, Prof Eko masih diminta mengajar.

”Sebelum SK pensiun dari pusat turun, saya sudah menerima SK perpanjangan masa mengajar dari rektor Undip. Jadi dijamin nggak nganggur, ha ha ha.”

Aktivitas Segudang

Kalau pun SK perpanjangan masamengajar itu tak turun, Prof Eko tak akan benar-benar jadi penganggur. Pasalnya, di luar mengajar, ia punya aktivitas segudang, antara lain aktif sebagai Ketua Forum Keluarga Kalpataru Lestari (Fokkal), Badan Standarisasi Mutu Pendidikan (BSMP), anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Ketua Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang, Ketua Yayasan GRIS, dan Ketua Paguyuban Adi Yuswa.


Khusus yang terakhir, bertujuan mengajak kaum lanjut usia memberi kontribusi kepada masyarakat. Di paguyuban itu berkumpul banyak tokoh sepuh yang punya pandangan serupa Prof Eko. Ada Prof Kartini Sujendro, Prof Satjipto Rahardjo, Siti Fatimah Moeis MSc, Prof Agnes Widanti, dan sejumlah tokoh lain.


“Meski berusia lanjut, seseorang harus tetap memberikan apa yang ia punya untuk kemaslahatan sesama,” ujarnya.
Memasuki masa purnatugas dan memimpin Paguyuban Adi Yuswa, tak membuat Prof Eko merasa tua. Ia mencoba berpikir positif dengan mengambil hikmah yang ada. Suami Ir Sudanti Hardjohoebojo MSL itu merasa senang karena punya waktu luang yang bisa dipakai untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.


Kini, Prof Eko juga bisa bebas ke mana-mana. Beberapa waktu lalu menghadiri sebuah acara di Makassar, lalu Jakarta, dan besok antara tanggal 11-22 Juni, ia akan menjenguk anaknya yang bertugas di Kyoto, Jepang. Prof Eko sekarang merasa menjadi free man.

“Pokoknya meski pensiun, saya tetap “willem ortano”, dijawil gelem ora tau nolak, ha ha ha. Beberapa saat setelah lengser dari kursi Rektor Undip, saya sempat menjadi nomine Rektor Universitas PBB. Tapi belum kesampaian, karena yang terpilih akhirnya seorang guru besar dari Belanda. Minggu lalu saya dapat tawaran lagi dari Dirjen Dikti untuk sebuah posisi di UNESCO, tapi nggak tahu bagaimana hasilnya. Kalau memang tembus, ya saya jalani.”

“Willem Ortano” memang prinsip yang diugemi Prof Eko semenjak dulu. Ia selalu berusaha menangkap dan memanfaatkan peluang yang datang kepadanya sebaik mungkin.
Suatu ketika guru besar Fakultas Teknik yang menyukai puisi itu pernah menjadi penceramah di forum pengajian Maulid Nabi. Kali lain ia berbicara soal nuklir di Yogyakarta.

Meski demikian, bukan berarti Prof Eko penganut aji mumpung. Ia tetap mengukur sesuatu dengan kemampuan yang ada pada dirinya. Saat berbicara soal nuklir, misalnya, Prof Eko menggunakan perspektif sosial budaya.
Untuk dapat menjalani seabrek aktivitas itu dengan baik, lelaki yang dikaruniai dua anak dan dua cucu itu perlu menjaga kebugaran tubuhnya. Sebab walau bagaimanapun, kondisi fisiknya kini tak setangguh dulu.

Setiap hari Prof Eko merasa perlu melakukan olah raga pagi. Ia berjalan kaki keliling Stadion Jatidiri yang hanya berjarak 100 meter dari rumahnya. Sesudah itu dilanjutkan dengan melakukan olah raga waitankung.

“Senam terapi dari China itu saya kenal saat mengikuti kursus Lemhanas. Selama delapan bulan di sana, saya melakukan seminggu empat kali. Begitu selesai, eh langsung dapat sertifikat pelatih. Tapi saya tidak pernah menggunakan sertifikat itu. Sejauh ini murid saya baru satu, istri saya sendiri.”

Sumber : Suara Merdeka

Read more.....

Kamis, 07 Mei 2009

Tata Ruang Kota Perlu Direvisi (Atasi Rob di Semarang )

SEMARANG SELATAN- Upaya mengatasi banjir rob yang melanda wilayah Semarang bagian utara harus dilakukan secara menyeluruh, baik yang bersifat sipil teknis, vegetasi, maupun kelembagaan sosial.

Selain itu, perlu dilengkapi dengan payung hukum yang berpihak pada lingkungan, seperti penetapan ruang terbuka di daerah atas dan bawah. Pakar lingkungan Undip Prof Sudharto P Hadi MES PhD mengatakan, kebijakan ruang terbuka itu sudah tertuang dalam penataan ruang hingga 2010.

’’Kini saat yang tepat untuk melakukan penataan kembali, sehubungan dengan terbitnya UU Penataan Ruang No 26 tahun 2007. Perlu ditata kembali seberapa besar ruang terbuka yang dibutuhkan di daerah atas itu,’’ ungkapnya, Selasa (5/5).

Kaidahnya dalam UU No 26/2007, kata dia, sebanyak 30% itu merupakan ruang terbuka hijau, 20 % ruang terbuka hijau publik, dan 10% ruang terbuka privat.
Ia menilai kini waktu yang tepat untuk melakukan pemetaan guna menetapkan mana saja yang harus dipelihara, daerah yang tidak boleh dibangun dan boleh dibangun. ’’Ya, perlu ada revisi penataan ruang, dan sekarang sedang berjalan di Pemkot,’’ terangnya.

Kian Parah

Dia mengatakan, idealnya Semarang bagian utara dibiarkan sebagai ruang terbuka. Sebab, sebelum tahun 1990-an, ketika masih banyak tambak, di sana jarang terjadi rob. Artinya, ruang-ruang terbuka itu mampu menyerap air yang lewat.

’’Sekarang sudah tidak ada lagi. Untuk itu, saya menilai ruang-ruang yang masih terbuka itu sebaiknya tetap dijadikan ruang terbuka sebagai tempat penyerapan air pasang.’’

Terpisah, Karman, Kepala Operasional LBH Semarang yang juga anggota Walhi mengatakan, kerusakan pesisir utara Jawa Tengah kian parah. Berdasarkan hasil monitoringnya tahun 2007-2008, bencana banjir dan rob dari tahun ke tahun terus berulang, bahkan cenderung meningkat.

Bahkan, ada warga yang terpaksa mengungsi karena rumahnya rusak parah akibat rob. Di kawasan Kota Lama, rob telah masuk ke wilayah permukiman, seperti Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah dan Kelurahan Kebonagung, Semarang Timur. ’’Di Kelurahan Tanjungmas, Semarang Utara sekitar 20 hektare, dan sejumlah rumah terkena dampak rob.’’

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, harus ditindaklanjuti dengan penataan ruang dan gerakan reboisasi di kawasan pesisir. Sebab, selama ini pemerintah dinilai tidak konsisten dalam melaksanakan rencana umum tata ruang kota (RUTRK).

Ia mencontohkan, ketika ada investor masuk, daerah yang sebelumnya bukan kawasan industri pun bisa dijadikan kawasan industri. Hal itu dinilainya merupakan salah satu penyebab kerusakan pesisir. ”Untuk itu, pemerintah juga harus konsisten dengan tata ruang itu. Jika ada yang melanggar harus ditindak tegas,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan pantauan BMG Maritim, rob di Semarang hingga kemarin masih cukup tinggi, yakni berkisar antara 1,3 meter hingga 1,4 meter. Namun, waktunya bergeser dari jam 13:00 menjadi pukul 14:00-15:00. Puncak rob diperkirakan terjadi hingga pukul 20:00 dan kemudian surut.

’’Rob itu proses gravitasi bumi dan matahari. Tinggi air pasang maksimum pada siang hari terjadi di antara bulan April, Mei dan Juni,’’ terang Atmaji Putro, prakirawan BMG Maritim.

Sekda Soemarmo HS menginstruksikan elemen pemerintah di bawahnya untuk tanggap terhadap bencana rob. Siklus alam ini masih mengancam. Pasalnya air pasang semakin meninggi saat pertengahan bulan atau bulan purnama. ’’Kami meminta kewaspadaan ditingkatkan,’’ katanya.

Untuk kecamatan dan kelurahan, sebagai elemen pemerintahan yang langsung berhubungan dengan masyarakat, diminta mempersiapkan bila sewaktu-waktu terjadi bencana. Di antaranya tempat evakuasi atau mengungsi bila banjir rob meninggi. Hal itu bisa di masjid dan balai RW/kelurahan yang tempatnya aman dari terjangan banjir. Sementara itu stok bantuan bahan makanan juga diminta untuk dicukupi. Petugas Dinas Kesehatan harus memantau sewaktu-waktu dibutuhkan untuk membuka posko darurat.

Sumber : Suara Merdeka
Berita : Rob Genangi......

Read more.....

Memotret Demak dari Sungai

DEMAK berada di tengah-tengah jalur Pantura. Ini jalur besar yang menghubungkan kota-kota di sepanjang Pantura. Jalur utama Jakarta-Surabaya pun welewati jurusan ini (Semarang-Demak-Jepara-Kudus-Pati-Rembang). Oleh karena itu aktivitas sehari-hari masyarakat Demak dapat diteropong ketika orang-orang melintas.

Salah satu yang sering menjadi perhatian sekilas bagi orang-orang luar kota yang sedang melewati kabupaten Demak adalah sungai. Ya, sungai adalah latar strategis untuk memotret kebudayaan masyarakat Demak.

Dari sungai, orang-orang melihat sebagian warga Demak tengah mandi. “Kesegaran” khas inilah yang di-”tawar”-kan pada para pengendara atau pelintas ketika melewati kawasan Sayung dari arah Semarang. Atau dari arah Demak menuju Jepara atau Kudus. Atau ketika melintasi jurusan Demak-Purwodadi.


Di sungai-sungai yang sejajar dengan jalan raya itulah mudah dijumpai perempuan mandi sekadar berpinjung jarik dan yang lelaki telanjang dada.
Ini lebih mengarah pada etika dan estetika kebudayaan sebagai kota yang menjadi jantung perlintasan di daerah-daerah Pantura.

Kota Demak memiliki “Sungai Mekong” terpanjang di dunia. Sungai Mekong adalah kiasan bagi sungai yang dipergunakan untuk aktivitas MCK (mandi, cuci dan kakus).

Banyak orang bertanya-tanya mengapa (sebagian) warga Demak betah mandi atau mencuci di sungai, sementara airnya kotor. Lihat saja air sungai Tuntang dan Sungai Buyaran yang berada di sisi jalan Semarang-Demak itu berwarna hijau. Sungai itu tampak tidak berarus. Mirip seperti genangan air belaka. Fakta itu tak beda dengan sungai di sepanjang jalan Demak menuju Kudus atau Jepara yang juga kotor.

Adapun yang masih terbilang jernih adalah Sungai Jajar: sungai yang menghubungkan Demak dengan Purwodadi. Sungai ini terletak sebaris dengan jalan Demak-Purwodadi. Sungai Jajar terhubung sampai daerah-daerah Kecamatan Bonang dan bermuara di laut Jawa.

Aktivitas MCK yang dilakukan warga di sungai merupakan pemandangan yang sedikit mengganggu bagi pelintas jalan.

Seperti dimafhumi masyarakat umum yang telah melampaui masa post-tradisional, bahkan bisa dikatakan modern, mandi di tempat terbuka adalah tidak mengindahkan etika. Ini berkaitan dengan wacana tubuh yang secara pribadi harus di-”tutupi” dari ruang sosial demi suatu tujuan etis maupun estetis.

Kesuburan

Sungai adalah sebuah keyakinan kuno tentang kesuburan. Secara mitologis, sungai merupakan sebuah siklus kelahiran dan proses regenerasi. Dahulu kala, leluhur Jawa menjadikan sungai sebagai tempat menyucikan diri yang merupakan lambang dari upaya manusia menghalau kekuatan jahat yang mengancam (Robby Hidajat dalam Jurnal Kebudayaan Jawa, 2006).

Mitos macam ini dikuatkan dengan fakta bahwa seorang susuhunan lahir di tanah Demak dengan jalan menyucikan diri di tepi sungai. Sunan Kalijaga (salah satu dari Walisongo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa) kemudian mengantarkan Demak mendapat sebutan Kota Wali sampai kini. Secara geografis, sungai adalah kekayaan alam yang sangat berharga bagi manusia. Sungai adalah representasi kesuburan suatu daerah.

Demak mempunyai sejarah penting dalam perekonomian di tanah Jawa, yakni ketika Kerajaan Demak masih berdiri kokoh pada kurun abad XVI.

Sebagai Kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak pernah menjadi daerah maju ketika perekonomiannya ditopang oleh perairan seperti sungai untuk pertanian. Bahkan sungai menjadi jalur transportasi kapal-kapal menghubungkan titik-titik perniagaan dengan bandar laut yang menjadi pusat arus barang niaga di pantai utara Laut Jawa.

Aktivitas MCK secara langsung mengotori sungai. Ini disebabkan oleh zat-zat kandungan sabun mandi atau sabun cuci yang kemudian larut dalam air sungai. Sementara, sungai yang kotor merepresentasikan area slum atau daerah kumuh.

Beda dari zaman purba, orang-orang mandi belum menggunakan sabun sehingga tidak mengakibatkan air sungai terkena polusi.
Mengingat sungai-sungai besar di Demak masih menjadi saluran irigasi vital bagi pertanian, maka pengotoran sungai amat merugikan.

Orang-orang tidak sadar dan tidak berpikir jauh tentang persoalan ini, padahal lambat laun dapat mengurangi produktivitas pertanian karena kualitas air yang berangsur-angsur makin memburuk.

Oleh karena itu, aktivitas MCK yang memanfaatkan sungai perlu dicarikan alternatif lain dengan tidak memutus hubungan masyarakat dengan sungai itu sendiri. Hal ini demi menghapus stigma buruk agar olok-olok “Sungai Mekong Terpanjang” tidak menjadi kutukan berkepanjangan bagi generasi berikutnya.

Alangkah lebih baik jika pengguna sungai membuat tempat-tempat mandi di rumah masing-masing. Sementara airnya tetap diambil dari sungai dengan bantuan mesin pompa air. Pola seperti ini tidak akan mengotori air sungai maupun mengganggu pemandangan mata.
Citra Kota Wali
Jargon Demak Beramal (bersih, elok, rapi, anggun, maju, aman, serta lestari) selaiknya ditunjukkan dengan tata kehidupan yang selaras antara etika dan estetika. Salah satunya dengan mendayagunakan sungai sebagaimana mestinya.

Perlu kesadaran kolektif warga sekitar sungai yang berada di tengah-tengah ruang publik untuk menjadikan sungai bersih dan nyaman dipandang mata.

Apalagi Demak masyhur sebagai kota yang tingkat religiusitas masyarakatnya cukup tinggi. Ini tak lepas dari sejarah Demak sebagai pusat persebaran Islam di Jawa (simbolnya adalah kerajaan Demak dan Walisongo).

Citra yang demikian seharusnya mendorong untuk bersikap hidup bersih dan tertata sebagai perwujudan cermin hidup yang agamis. Bahwa, al-nadhafatu min al-iman, ’’kebersihan bagian dari iman’’.

Semua titik-titik produktif yang menopang kemajuan Demak itu akan semakin mempunyai daya tarik jika didukung dengan kota yang bersih, tertata, dan berestetika.

Sumber : Suara Merdeka

Read more.....

Design by infinityskins.blogspot.com 2007-2008