Jumat, 18 Desember 2009

Arsitektur Undip Juara III Desain Taman

SEMARANG - Mahasiswa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Undip menjadi juara III Sayembara Gagasan Perancangan 2009 Taman Kota Kebun Pisang Penjaringan Jakarta, Senin (1/12).

Konsep desain Alphana Fridia Chessna, Paramadia Kartika, Zuhri Ferdeli, dan Sofan Nuri itu mengalahkan 42 karya lain dari seluruh Indonesia. Juara I lomba yang digelar Dinas Pertamanan DKI Jakarta itu adalah IPB, sedangkan juara II alumni UI.

Dr Ir Edy Purwanto MT, dosen pembimbing keempat mahasiswa itu, menyatakan konsep desain mereka berjudul ”Eco Natural Garden City”. Konsep itu menawarkan alternatif desain taman 4,9 ha berbasis ekologi dan estetik.

Ekologi diwujudkan dengan membatasi ruang bagi kendaraan bermotor yang masuk ke taman agar oksigen tak tercemar. Taman juga dilengkapi polder pengendali banjir, mengingat wilayah itu sering terlanda banjir.


”Kendala dalam mendesain, selain bentuk lahan tipis dan memanjang seperti lintah, juga jenis tanah lempung tak memungkinkan semua jenis tanaman bisa hidup di sana,” ujarnya.

Karena itu, mereka memilih jenis tanaman peneduh dan hias seperti pohon aren, jambu mete, jeruk besar, mawar, dan perdu untuk menghias taman kota tersebut. Selain itu, tanaman pisang sebagai ciri khas taman juga dipertahankan.
Daya Tarik Lokasi kebun pisang Penjaringan yang merupakan akses keluar-masuk ke Bandara Soekarno-Hatta menjadi poin tersendiri sebagai daya tarik Jakarta. Taman itu didesain terdiri atas dua zona, yakni taman pasif untuk paru-paru kota dan taman aktif yang bisa diakses masyarakat.

Taman kota kebun pisang itu dirancang juga terdiri atas memiliki 20% area air berupa polder, 50% area hijau, dan 30% area publik seperti fasilitas taman bermain, jogging track, dan dermaga, sekaligus dilengkapi dengan tower komunikasi.

”Kami menghindari desain taman yang bisa dipakai tidur oleh gelandangan dengan menerapkan model jogging track,” katanya.
Salah satu kelebihan taman itu, tutur dia, adalah memasukkan aspek sosial dalam proses desain.

Masyarakat sekitar yang sebagian besar masyarakat menengah ke bawah dilibatkan dengan bisa mengambil hasil dari kebun pisang serta menggunakan area bermain.

Dr Ir Eddy Prianto CES DEA, sebagai dosen koordinator, menyatakan pada ajang yang diikuti mahasiswa arsitektur dan arsitektur profesional itu, Arsitektur Undip mengirim 15 tim.

Setiap tim terdiri atas empat mahasiswa dan seorang dosen pembimbing. Dua tim lolos ke peringkat sepuluh besar. Namun hanya satu tim yang masuk peringkat ketiga.

Sumber : Suara Merdeka

Read more.....

Saatnya Menerapkan Arsitektur Hijau

KONSEP green technology kini menjadi tuntutan masyarakat di sejumlah negara maju. Green dalam konteks ini dapat diterjemahkan sebagai ramah lingkungan.

Istilah ramah lingkungan makin merebak, setelah bumi menghadapi berbagai masalah krusial seperti isu global warming, deforestasi (penebangan liar), polusi yang meningkat, dan sebagainya. Semua itu terkait dengan aktivitas keseharian manusia yang sangat berpengaruh terhadap kelestarian lingkungan.

Pencemaran juga dipicu oleh perkembangan teknologi saat ini. Teknologi, di satu sisi, memang dapat memerbaiki bahkan mendukung kehidupan manusia. Tetapi di sisi lain juga bisa menghancurkan. Dalam konteks inilah isu teknologi hijau makin kencang terdengar.


Banyak hal bisa dilakukan untuk menerapkan teknologi hijau, misalnya melalui green computing dan green architecture (arsitektur hijau). Green computing adalah perilaku menggunakan sumber daya komputasi secara efisien, dengan memaksimalkan efisiensi energi, memperpanjang masa pakai perangkat keras, meminimalkan penggunaan kertas, dan beberapa hal teknis lainnya.

Sedangkan arsitektur hijau adalah proses rancang bangun untuk mengurangi dampak lingkungan yang kurang baik, meningkatkan kenyamanan manusia dengan peningkatan efisiensi, pengurangan penggunaan sumberdaya, energi dan pemakaian lahan, maupun pengelolaan sampah yang efektif dalam tataran arsitektur.

Jika kita ingin merenovasi rumah, ada baiknya menggunakan konsep arsitektur hijau. Tak bisa diungkiri, Indonesia masih tertinggal dari negara-negara maju dalam aplikasi konsep ini.

Bisa dipahami, karena mereka lebih dulu memahaminya dengan baik dan menerapkannya untuk rumah / bangunan sehingga tercipta properti yang ramah lingkungan. Membangun rumah berkonsep arsitektur hijau sejatinya tak identik dengan biaya mahal, tapi selaras dengan prinsip ekonomi dan merupakan investasi jangka panjang, memiliki nilai tinggi serta nyaman dihuni.

Kita nantinya justru diuntungkan dengan arsitektur hijau, karena konsentrasi oksigen di kawasan hijau lebih tinggi, udara lebih segar, air lebih bersih, serta limbah lebih sedikit.
Mengurangi Emisi Selain itu, perumahan berkonsep arsitektur hijau berarti turut berperan mengurangi emisi penyebab pemanasan global dan menjaga kelestarian lingkungan.

Membangun hunian dengan konsep hijau bukan sekadar membangun permukiman dengan taman dan pepohonan di kiri-kanan jalan. Lebih dari itu, secara luas berarti berwawasan lingkungan dan proses berkelanjutan meliputi keseimbangan ekologis, desain rumah yang ramah lingkungan, pemberdayaan bagi penghuni, serta penegakan hukum sesuai tata ruang dan wilayah, juga memerhatikan etika dan kenyamanan warga.

Hunian hijau bertujuan mengembangkan kawasan dengan memperhatikan penghijauan, yaitu penanaman pohon yang secara optimal mampu menyerap polutan.

Selain itu, properti hijau juga menyangkut tata guna lahan, konservasi air bersih, ruang terbuka hijau, penerapan pola hemat energi, material bangunan, pengolahan sampah dan air kotor, serta memerhatikan transportasi / aksesbilitas. Keuntungan yang diperoleh dari lingkungan hijau terhadap kesehatan adalah dapat mereduksi pencemaran udara, bisa menyejukkan perasaan sehingga mengurangi stress atau depresi, memberi supply udara bersih pada wilayah sekitar permukiman. Artinya, secara keseluruhan baik bagi kesehatan dan kelestarian alam.

Nah, tentunya keselarasan hidup manusia dan alam harus tetap seimbang. Untuk mewujudkan itu semuanya, mari kita memulainya dari diri sendiri. Dengan konsep green technology yang terangkum dalam arsitektur hijau, kita dapat memberikan sumbangsih untuk lebih menghijaukan bumi ini. Sudah saatnya kita menerapkan sistem ramah lingkungan ini dalam ruang lingkup kita sehari-hari.

Sumber : Suara Merdeka
Gambar - Designshare

Read more.....

Kamis, 10 Desember 2009

Menyelamatkan Kota

Kompas - Memperingati Hari Habitat Dunia, Sekjen PBB Ban Ki-moon berpesan, ”Perencanaan kota hanya terwujud bila ada tata pemerintahan yang baik....”

Tanpa tata pemerintahan yang baik, tanpa pelibatan aktif masyarakat miskin perkotaan dalam pengambilan keputusan yang terkait nasib mereka, dan tanpa penanggulangan korupsi, perencanaan perkotaan di segenap pelosok Tanah Air tidak akan banyak manfaatnya.

Vandalisme perencanaan

Beberapa tahun silam, seorang unsur pimpinan Asosiasi Pemerintahan Kota Se-Indonesia mengemukakan, lebih dari 80 persen rencana kota di Indonesia tidak terlaksana seperti yang telah ditetapkan. Majalah The Economist (September 2009) mengangkat soal vandalisme ekonomi, mengakibatkan resesi. Maka untuk disiplin ilmu dan profesi perencanaan kota, sebenarnya banyak terjadi vandalisme perencanaan perkotaan karena banyak penyimpangan dan pelanggaran tata ruang perkotaan, tanpa sanksi bagi pelanggarnya.



Kini kita merasakan akibatnya. Banyak taman kota, tempat bermain, dan lapangan olahraga yang menghilang, disulap jadi bangunan komersial. Banyak bangunan kuno bersejarah diganti bangunan modern dan post-modern yang tak berjiwa. Kawasan kumuh dan liar pun merebak tanpa kendali. Penduduk miskin perkotaan kian dipinggirkan.
Selain itu, macetnya lalu lintas karena rencana pembangunan transportasi massal terkendala berbagai faktor, termasuk lobi kuat para produsen mobil. Pertumbuhan kota yang kian melebar, melahap tanah-tanah subur di sekitarnya, menyulitkan penyediaan infrastrukturnya.

Contoh jelek

Contoh paling jelek dipertontonkan kota Jakarta, satu-satunya megalopolis ibu kota negara. Coba tengok, makam di tengah kota berubah menjadi apartemen mewah menjulang tinggi. Biasanya pemandangan yang didambakan adalah laut, gunung, taman, dan kolam. Namun, di apartemen itu tampaknya kuburan menjadi pemandangan utama.

Lebih mengherankan lagi, makam menjadi kantor pemerintah. Di desa-desa, kuburan di pinggir dusun sungguh dihormati, bahkan amat sangat disegani. Oleh masyarakat setempat, makam desa disebut setana (istana). Mana ada orang desa berani mengubah fungsi setana menjadi perumahan atau perkantoran. Jangan lupa, kuburan termasuk kategori ruang terbuka hijau yang wajib dilestarikan.

UU No 26/2007 tentang Penataan Ruang mengamanatkan, di perkotaan wajib tersedia 30 persen ruang terbuka hijau, terdiri dari 20 persen ruang terbuka hijau publik dan 10 persen ruang terbuka hijau privat.

Berapa total luas ruang terbuka hijau Jakarta? Kabarnya tinggal 9,8 persen, amat jauh dari ketentuan UU.

Bagaimana Jakarta menanggulangi banjir tiap musim hujan jika ruang terbuka hijau begitu minim? Belum lagi fenomena perubahan iklim yang berdampak naiknya permukaan air laut.

Contoh jelek lain yang amat merisaukan adalah sistem transportasi umum. Tahun 1970-an, Bangkok dikenal sebagai kota paling macet. Predikat itu rupanya sudah pindah ke Jakarta.

Semua orang tahu, alternatif terbaik untuk mengatasi kemacetan lalu lintas kota Jakarta adalah mass rapid transit di bawah atau di atas tanah, bukan mengambil lahan seperti model trans Jakarta.

Tidak kalah mengerikan, dosa kembar: kegilaan membangun segala hal yang gigantik di pusat kota yang sudah sumpek dan pemekaran kota tanpa kendali ”mencaplok” daerah belakang menjadi kawasan konurbasi.

Rencana penyelamatan

Ada dua aspek besar untuk menyelamatkan kota.

Pertama, aspek perencanaan prosedural, menyangkut tata pemerintahan yang baik, proses pengambilan keputusan yang demokratis, dan pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu.

Kedua, aspek perencanaan substansial yang lebih realistis, pragmatis, tetapi juga visioner, berwawasan jangka panjang.

Untuk itu, kita perlu: pertama, mencegah kecenderungan bunuh diri ekologis perkotaan, dengan menjaga eksistensi ruang terbuka hijau yang tersisa, menambah ruang terbuka hijau yang baru, dan menerapkan prinsip kota hijau.

Kedua, meneguhkan tekad membangun sistem transportasi publik terpadu, mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, yang akan amat menghemat energi dan bisa menangkal dampak negatif emisi karbon dan gas rumah kaca.

Ketiga, mengupayakan keseimbangan dinamis antara kota dan desa, menggalakkan pembangunan kota-kota baru mandiri, menciptakan kota-kota yang kompak berskala manusia.

Keempat, mengurangi kesenjangan ekonomi antarwarga kota yang berpotensi memicu kecemburuan sosial, melalui perencanaan komunitas yang mampu menggairahkan solidaritas sosial, mencegah gejala eksklusivisme.

Kelima, menggalakkan aneka program yang memberi peluang untuk distribusi sumber daya alam, manusia (kependudukan), modal/finansial, kelembagaan (institusional), dan teknologi secara merata dan berimbang.

Aneka program transmigrasi dengan prinsip daerah membangun (bukan pembangunan daerah) dan yang belakangan ramai dibicarakan: perpindahan penduduk karena dampak perubahan iklim (climigration) kiranya layak dijadikan salah satu landasan pemikiran guna penyelamatan kota-kota kita pada masa depan.

Sumber : Kompas

Read more.....

Rabu, 09 September 2009

Prof Eko menilai sudah terlalu padat Videotron jangan di Simpanglima

MUGASSARI - Pembangunan tiga titik videotron yang tersebar di sekitar Simpanglima, dinilai akan menambah kesemrawutan kawasan tersebut. Pakar tata kota Undip Prof Eko Budihardjo mengungkapkan, dengan ’rimbunnya’ kawasan Simpanglima oleh baliho, menambah kesemrawutan pusat kota Semarang itu.

’’Kenapa semua papan reklame harus berpusat dan dibuat di sekitar Simpanglima. Mestinya jangan di pusat kota saja, tapi disebar di daerah lain sehingga kosentrasi akan terbagi di daerah lain,’’ jelas Prof Eko saat dihubungi melalui ponselnya, Senin (7/9) kemarin.

Lebih lanjut mantan Rektor Undip itu mencontohkan, kawasan Semarang atas seperti Tembalang dan Gunungpati, merupakan daerah pusat keramaian yang juga perlu dikembangkan.


’’Saya berharap suasana serba rimbun, nan hijau dengan banyaknya pepohonan di kawasan Simpanglima tetap dijaga. Jangan malah dibuat rimbun dengan baliho dan pemasangan papan iklan dimana- mana,’’ tambahnya.

Pembangunan videotron di kawasan Simpanglima, tambah dia, hendaknya memperhatikan aspek-aspek lain sehingga tidak berdampak yang dapat merugikan masyarakat. ’’Jika videotron diputar, maka dapat menyebabkan kecelakaan karena para pengendara terpecah perhatiannya melihat tayangan vidiotron,” jelas Prof Eko.

Selain itu, lanjutnya, pola pembangunan yang dilakukan, jangan sampai menambah kesemrawutan Simpanglima. “Pembangunan videotron di Simpanglima, harusnya cukup satu dan bukan tiga seperti yang saat ini sedang dibangun,’’ tambahnya.

Diakui Prof Eko, pembangungan baliho, papan reklame dan videotron berdampak pada peningkatan pendapatan daerah. Namun, tambahnya lagi, pembangunan hendaknya tidak dilakukan di kawasan simpanglima. ’’Di tempat itu saat ini sudah terlalu padat jangan ditambahi dengan videotron akan tambah sumpek,’’ tandas pakar tata kota itu.

Sumpek
Sementara itu, anggota DPRD Kota Semarang Hanik Khoiru Solikah, meminta agar Pemkot Semarang benar-benar melakukan pembenahan reklame di kawasan Simpanglima.

Sebab, sekarang ini keberadaan reklame di pusat kota tersebut sudah tidak lagi memperhatikan estetika dan keindahan kota. “Saya saja merasa kawasan Simpanglima begitu sumpek dengan keberadaan reklame yang sudah seperti hutan. Tidak hanya itu, banyaknya reklame di Simpanglima justru mengurangi konsentrasi pengemudi kendaraan. Padahal, bundaran Simpanglima terhitung padat dan krodit,” beber wakil rakyat asal PDI Perjuangan ini.

Dia justru tidak mengerti dengan sikap Pemkot yang membolehkan pendirian videotron yang jumlahnya lebih dari satu unit. Bahkan, Hanik menduga hal tersebut sarat dengan kepentingan pihak tertentu. Karena itu, dia berharap agar pemkot segera meninjau ulang pendirian videotron, sekaligus mengkaji keberadaan reklame yang ada di kawasan Simpanglima. Baik dari tata letak, maupun ukurannya.

“Jangan sampai gara-gara mementingkan pendapatan asli daerah (PAD), pemkot lantas seenaknya saja memberikan izin pendirian reklame. Bagaimana pun, perlu pengkajian ulang mengenai reklame yang ada. Termasuk, pendirian videotron,” tegas Hanik.

Sumber : Wawasan
Gambar: Simpanglima

Read more.....

Selasa, 18 Agustus 2009

Arsitektur-kota Jawa, Memukau dan Filosofis

JAKARTA - Buku Arsitektur kota-Jawa: Kosmos, Kultur & Kuasa yang ditulis Jo Santoso, ahli perencanaan kota yang kini Ketua Graduate Program in Urban Planning di Universitas Tarumanegara, Jakarta, Selasa (17/3) malam di Bentara Budaya Jakarta, dibedah serius. Buku Jo dinilai serius dan menarik, karena melacak saat terakhir ketika Nusantara masih memiliki konsensus pada masa peradaban arsitektur-kota Jawa prakolonia l.

Guru Besar Institut Teknologi Surabaya (ITS) Josef Prijotomo mengatakan, Jo Santoso menyadari adanya kekeliruan dalam membaca masyarakat tanpa tulisan dengan menggunakan pembacaan dari masyarakat tulisan. Jo Santoso dengan berani membaca arsitektur dan kota Nusantara pada umumnya, dan khususnya Jawa, dalam lingkungan masyarakat tanpa tulisan. "Segenap data yang telah dihimpun oleh para ahli dan ilmuwan dari masa kolonial telah dia manfaatkan sebagai salah satu data yang diinterpretasi sebagai ujaran dari masyarakat tanpa tulisan," katanya.


Menurut Josef, dengan tindakan seperti itu, Jo Santoso lalu dapat menunjukkan bahwa Nias, Jawa, dan kawasan NTT dapat menjadi sebuah kontinuum dan kesatuan kota dan arsitektur Nusantara. Nusantara bukan lagi sebuah ku mpulan etnik yang saling terisolasi, melainkan sebagai sebuah taman yang beraneka warna bunganya, sebagai sebuah Bhinneka Tunggal Ika, yang bukan hanya slogan namun kenyataan.

Jo Santoso memang tidak menghendaki kajian yang ia lakukan menjurus pada sebuah perampatan (generalisasi) yang terisolasi dalam keterkurungan etnik demi etnik.

Dalam illustrasinya Josef sempat mengemukakan makna filosofis di balik tidak bolehnya menyambung kayu jati dengan kayu pohon kelapa, karena itu bukan jodohnya. Kalau itu terjadi, keluarga bisa berantakan.

Sedangkan Daniel Dhakidae, pakar politik yang menyukai tata kota, bercerita banyak tentang pengalamannya saat kuliah di Yogyakarta. Daniel juga tahu banyak soal Solo.

"Buku Jo santoso mengatakan bahwa arsitektur Jawa dan tatakota Jawa sangat mencerminkan sistem kekuasaan Jawa yang berlaku, maka ada dua soal yang dirangsang oleh tata kota Jawa, terutama Yogyakarta, yakni unsur "buto" yang langsung masuk ke dalam poros sakral," katanya.

Dengan perkembangan terbaru ketika pusat kekuasaan republik mempersoalkan status "keistimewaan Yogyakarta" maka terjadi semacam krisis kekuasaan dari "poros utara-selatan".

"Saya memperkirakan akan terjadi perubahan sosial di Yogyakarta yang terutama dirangsang oleh dialektika modern antara utara-selatan Yogyakarta, antara kemodernan dan ketradisionalan yang akan menyebabkan ketegangan sosial di Yogyakarta," katanya.

Tentang buku Jo Santoso, Daniel menilai, Jo Santoso seolah-olah menelusuri kota dan tata kota Jawa dari segi kosmografik, kultur, dan kekuasaan, dan dari sana membongkar kata-kata yang tersembunyi dalam batu, das Wort auf dem Stein, kayu, ruang, dan kosmos baik dalam mikro-kosmos maupun hubungannya dengan makro-kosmos. Dengan itu dibuka makna arsitektur dan tata kota Jawa yang memukau.

"Penulisnya sendiri menjadi panduan, yang tidak banyak ditemukan di negeri ini, dari keahlian teknis, yang memasuki ruang-ruang budaya dari segi arsitektur dan tata kota, untuk memeriksa apa hubungannya dengan kekuasaan di dalamnya," jejas Daniel.

Yayasan Studi Lingkungan Hidup (SILIH) menggelar bedah buku bekerjasama dengan Bentara Budaya Jakarta, karena buku Arsitektur kota-Jawa: Kosmos, Kultur & Kuasa memberikan sudut pandang baru atas kajian dan dokumentasi pakar Eropa selama ini mengenai arsitektur-kota Jawa.

Sumber : Kompas

Read more.....

Jumat, 12 Juni 2009

MEGA PROYEK PERKOTAAN : Tak Selalu Jadi Ancaman Perkampungan Kota

SEMARANG - Dr Ir Sudarmawan Juwono MT, Dosen Universitas Bung Karno Jakarta yang juga pegawai PT Pos Indonesia Jakarta tercatat sebagai lulusan pertama program Doktor (S3) Teknik Arsitektur dan Perkotaan Undip. Di hadapan tim penguji ujian Doktor terbuka yang diketuai Rektor Undip Prof Dr dr Susilo Wibowo MS Med SpAnd, di kampus Pascasarjana Undip, Sudarmawan berhasil mempertahankan disertasi berjudul "Kampung Kuningan di Kawasan Mega Kuningan Jakarta" dengan hasil lulus cumlaude IPK 3,77.

Di depan Promotor Prof. Dr. Ir. Sugiono Soetomo, DEA dan dua Co-Promotor (Prof. Dr. AM Djuliati Suroyo dan Dr. Ir. Joesron Alie Syahbana, MSc) dan Tim Penguji, Sudarmawan memaparkan hasil penelitian tentang ekologi, desain kota, rancangan dan sosial ekonomi yang dilakukan di kawasan Kampung Kuningan Jakarta yang selama 9 tahun ini seakan "terhimpit" oleh mega proyek Mega Kuningan, namun tetap bertahan dan bisa bersinergi baik.


“Sekarang ini di berbagai tempat di Indonesia, pembangunan mega proyek banyak dilakukan dan terkadang dianggap menggusur keberadaan kampung-kampung lama di perkotaan. Namun tidak semuanya begitu karena contoh di Kampung Kuningan Jakarta menunjukkan bahwa keberadaan atau pembangunan Mega Kuningan bukan menjadi ancaman Kampung Kuningan, tetapi sebagai peluang ceruk pasar,” ujar Sudarmawan.

Menurut alumnus S1 UNS dan S2 Undip ini, dalam perkembangan kota di era global ini seakan lebih banyak memberi kesempatan berkembang dan beraktivitas bagi orang kaya. Namun, ternyata pelaku aktivitas di suatu kawasan ëkayaí tidak hanya mereka yang kaya melainkan masyarakat kalangan rendah, miskin atau kalangan terpinggirkan (sektor informal). Sehingga bila ditata dengan baik kampung-kampung di perkotaan yang banyak dihimpit kawasan Mega Proyek bisa bersinergi dengan baik.

“Penelitian saya, keberadaan Kampung Kuningan dengan Mega Kuningan menunjukkan tidak saling "bunuh" dan punya ruang gerak yang bebas. Kawasan ini tidak hanya aspek sosial budaya tetapi juga sebagai ruang aktivitas ekonomi. Keberadaan masjid, makam dan fasilitas kampung lainnya di sana bukan hanya sebagai tempat ibadah semata melainkan juga sebagai aktivitas kawasan atau sebagai ruang yang betul-betul fungsional,” jelasnya.

Selama 9 tahun terakhir Kampung Kuningan yang seakan dihimpit Mega Kuningan mampu bertahan dan bersinergi baik dengan Mega Kuningan. Para penghuni atau pekerja di Mega Kuningan sangat membutuhkan keberadaan Kampung Kuningan di antaranya untuk kos atau kontrak, membeli makan dan lain sebagainya.

Lulusan pertama program doktor Teknik Arsitektur dan Lingkungan Undip inipun merekomendasikan pada pemerintah agar keberadaan kampung-kampung semacam Kampung Kuningan di kota-kota besar di Indonesia tetap dijaga keberadaannya dan disinergikan dengan mega proyek perkotaan. Pemerintah berkewajiban menata infrastruktur kampung dan menjaga serta memberdayakan kampung agar bisa bersinergi dengan mega proyek perkotaan.

Sumber : Kedaulatan Rakyat

Read more.....

Keberadaan Kampung di Kota Perlu Dipertahankan

SEMARANG, KOMPAS - Perkembangan kota yang didorong oleh proses globalisasi perlu dikendalikan untuk melindungi masyarakat kelas ekonomi lemah. Oleh karena itu, keberadaan kampung sebagai sebuah ruang untuk menumbuhkan aktivitas ekonomi perlu dipertahankan.

Sudarmawan Juwono menyampaikan hal tersebut dalam disertasinya yang berjudul "Kampung Kuningan di Kawasan Mega Kuningan Jakarta: Kebertahanan Kampung dalam Perkembangan Kota" ketika ujian promosi doktor, di Gedung Program Pascasarjana Universitas Diponegoro, Kota Semarang, Kamis (11/6). Sudarmawan merupakan lulusan pertama Program Doktor Teknik Arsitektur dan Perkotaan Undip.


Sudarmawan mengatakan, keberadaan sebuah kampung di tengah padatnya gedung-gedung pencakar langit dapat memberi ruang bagi sektor informal untuk tumbuh. Dengan demikian, kelompok masyarakat yang berpenghasilan rendah dapat memiliki peluang untuk bertahan.

"Kampung tersebut dapat dijadikan untuk usaha kos-kosan, kontrakan, maupun rumah makan bagi para karyawan yang bekerja di gedung," ucapnya.

Hal ini menunjukkan adanya simbiosis mutualisme antara perkembangan kota dengan keberadaan sebuah kampung yang memiliki fungsi yang disebut dengan teori integrasi. Ini seperti yang terdapat di Kampung Kuningan ataupun Jalan Jaksa," katanya.

Kampung juga menjadi cerminan nilai-nilai lokal yang dapat dipertahankan di tengah serbuan produk globalisasi. Kampung juga menjadi perekat kehidupan sosial karena memiliki ruang bersama yang dapat digunakan secara kolektif.

Sumber : Kompas

Read more.....

Design by infinityskins.blogspot.com 2007-2008